topads

Wawancara Tokoh - Penerbangan Indonesia Menuju Standard Internasional

Penulis: Gatot R
Fotografer: Suharso Rahman

Menteri Perhubungan EE Mangindaan
Menteri Perhubungan Evert Ernest Mangindaan
foto : angkasa /Suharso Rahman

Menyiapkan sumber daya manusia harus secara maksimal. Jangan lagi berpikir lingkup nasional, tapi sudah harus sejajar dengan standar internasional.

Santun dan kalem adalah pesona dari sosok Evert Ernest Mangindaan, Menteri Perhubungan yang dilantik Presiden Yudhoyono pada 19 Oktober 2011 lalu. Namun pria yang pada bulan Januari ini tepat berusia 70 tahun itu masih terlihat energik terutama saat mengungkapkan pendapat-pendapatnya.  Berbagai dunia pernah dirambah. Mulai dari militer aktif, pengajar di militer, olah raga (sepak bola, judo dan karate), dan sekarang merambah ke dunia transportasi.

Dengan sifatnya yang senang belajar, tidak sulit untuk mempelajari dunia transportasi yang saat ini terus berkembang. Pertengahan Desember lalu, pria yang menyayangi keluarga ini menerima Angkasa untuk memberikan gambaran ke depan tentang sumber daya manusia di transportasi udara.



Bagaimana pandangan Bapak secara umum tentang dunia transportasi udara nasional pada tahun 2013?

Bicara 2013 harus dikaitkan sejak 2008. Sektor penerbangan sempat turun tahun 2008. Namun setelah itu tumbuh sangat pesat. Pertumbuhan ekonomi nasional kita sejak 2008 naik di atas angka 6%. Makanya kita masuk G20. Pertumbuhan sektor penerbangan kita pun naik dengan rata-rata 15%. Kalau kita prediksi pertumbuhan ekonomi nasional kita tahun 2013 sekitar 6,3%, saya yakin sektor penerbangan juga akan naik. Yang harus kita antisipasi adalah penyiapan bandara. Yang ada ditingkatkan, yang belum ada kita bangun baru. Bagaimana maskapainya? Saya kira akan banyak maskapai yang datang baik nasional maupun internasional.

Apakah yang sebaiknya dikurangi dan apakah yang sebaiknya dipertahankan dan ditambahkan?

Sebenarnya tidak ada yang an sich dikurangi tapi beralih. Yang dikurangi adalah ketergantungan pada manusia. Dari manual, mekanik menjadi elektrik atau teknologi. Kesalahan sering terjadi karena faktor manusia. Beralih ke elektrik, tidak bergantung pada manusia akan menjadi lebih efisein. Dalam rangka pelayanan publik, juga harus dikurangi prosedur yang berbelit-belit.

Yang dipertahankan adalah standarisasi untuk kebutuhan nasional, tambahkan standardisasi untuk kebutuhan internasional. Jadi, standar nasional harus sekaligus standar internasional.

Misalnya untuk pilot, selain lisensinya bisa dipakai secara nasional, juga harus bisa dipakai secara internasional.

Secara spesifik, bagaimana pandangan Bapak tentang sumber daya manusia di dunia transportasi udara nasional?

Terus terang kita kelabakan untuk menghadapi kebutuhan sumber daya manusia. Baik pilot, teknisi dan navigasi. Belum lagi kru-nya. Ke depan, kebutuhan kita akan pilot dan yang lainnya akan semakin banyak karena banyaknya pesawat yang akan datang. Dari luar negeri juga banyak yang minta pilot kita. Saya katakan, jangan ditahan kalau ada yang diminta pihak luar negeri. Serahkan saja, kita cetak lagi. Kan kita juga senang kalau rakyat kita sejahtera.

Menurut Bapak, bagaimana cara meningkatkan jumlah sumber daya manusia penerbangan tersebut?

Sekarang kita sudah konsepkan, ada yang dibentuk dan dididik oleh kita (pemerintah), ada yang oleh swasta. Saya baru didatangi teman-teman yang ingin mendirikan sekolah pilot. Saya izinkan semua. Asal connect dengan sekolah yang kita bina. Maksudnya standarnya harus jelas. Kurikulumnya harus jelas agar standarnya jelas. Kalau bisa international standard. Harus internasional karena kita mengikuti perkembangan teknologi. Kita juga tidak bisa lepas dari peraturan ICAO.

Bapak lama berkecimpung dalam dunia pendidikan terutama di jajaran TNI.  Apa sebenarnya yang harus diberikan dalam dunia pendidikan?

Sebagai pengajar saya punya konsep Three in one. Yang pertama harus ditingkatkan intelektualnya. Kedua soal mental termasuk salah satunya tentang nasionalisme. Yang ketiga adalah fisik yang tangguh. Jangan sakit-sakitan apalagi menggunakan narkoba. Tiga hal ini harus betul-betul dimiliki oleh insan perhubungan udara. Karena mereka bertanggung jawab terhadap ratusan penumpang yang dibawa.

Dapatkah metode di TNI diadopsi untuk pendidikan di dunia penerbangan?

Semua bisa kecuali satu yaitu tidak boleh terlalu keras. Kita di militer menggembleng mental untuk jadi pejuang. Harus dilatih untuk tidak mengenal menyerah dalam kondisi apapun. Jangan menggerutu duluan sebelum mengatasi masalah. Kedua rela berkorban. Nyawa pun aku serahkan demi bangsa dan negara. Ketiga yakin kebenaran perjuangan kita. Keempat percaya pada diri sendiri. Karena kita sekolah kita harus punya prinisip: kalau orang lain bisa, aku pun pasti bisa. Semua itu bisa diterapkan di pendidikan sipil tapi jangan terlalu keras.

Sebagai seorang purnawiraan TNI, Bapak terlihat santun dalam bersikap.

Sikap santun saya mungkin terbawa dari kedua orang tua yang semuanya guru. Sejak kecil saya diajari santun, tidak berkelahi. Kalau di keluarga, saya paling lembut dan manut sama orang tua. Apalagi dulu saya kekar. Bagian kerjaan yang berat, saya yang nanganin. Tapi di luar rumah jangan coba-coba cemooh saya. Saya latihan karate, judo  supaya orang jangan meremehkan saya. Saya pernah juara junior judo dan karate se-Makassar.

Bagaimana konsep Bapak mengelola sebuah Kementerian Perhubungan?

Terbawa dengan perilaku, konsep  saya ya begitu. Yang pertama saya punya peraturan pedoman leadership yang diambil dari falsafah Jawa. Yaitu taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, Waspodo Purbawisesa (menjaga jangan ada salah), Ambeg Param Arta (mendahulukan kepentingan yang lebih besar), Prasojo (sederhana dalam bertindak), Saktiya atau toleransi, Gemi Nastiti dalam hal materi, Bloko atau transparansi istilah jaman sekarang, serta Legowo atau lapang dada.

Yang kedua, kemampuan manajemen. Kemampuan manajerial harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Saya coba mengarahkan ke bawahan saya juga begitu. Harus berpikir: programming dulu baru bicara budget. Mission oriented bukan budget oriented.



Sumber : Angkasa
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright Militer Review 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all